Drizzle


Saya pernah dengar kalimat  'setiap penulis harus pernah setidaknya sekali menulis tentang hujan' yang artinya setiap orang harus mampu setidaknya sekali menulis tentang hujan.

Bulan- bulan ini musim hujan. tanah dan pohon terguyur basah sering kali, nah karena itu saya mau mulai. Saat ini waktu menunjukan pukul sembilan pagi, dan cuaca cerah. Karena terlalu cerah saya jadi rindu sama hujan. Bagus kan, menulis tentang sesuatu yang dirindukan, banyak 'kenapa' yang bisa diutarakan.

Menurut saya hujan itu dramatis. se- dramatis piring mahal yang tiba- tiba pecah berkeping- keping. Jadi setiap kejadian dramatis seharusnya di latar- belakangi dengan hujan. Jatuh cinta, patah hati, bukannya hal- hal seperti ini pantasnya di lengkapi dengan suara hujan? gerimis sejuk buat yang sedang jatuh cinta, dan sedikit deras dan gelap buat yang patah hati. Atau mungkin yang berpetir sekalian buat yang patah hatinya sampai niat bunuh diri. haha.

Yang paling lucu adalah setiap orang pada dasar lubuk hatinya, keberadaan alam bawah sadarnya, ingin menjadi dramatis. Dramatis setiap kejadian hidupnya atau dengan kata lain menjadikan dramatis kejadian hidupnya. Kebutuhan akan sesuatu yang penting dan yang berbeda, yang tidak biasa, yang berlebihan bahkan yang menyakitkan adalah poin merasakan kehidupan. Karena itu kursi selalu penuh terisi pada pemutaran twilight atau harry potter atau paket box office lainnya.

Apa yang menarik dari sekumpulan orang dengan paras hampir sempurna merangkai cerita mereka sendiri? yang tidak pernah ada hubungannya dengan cerita kita. Atau mungkin pernah merasa ada? percaya deh, itu cuma bagian alam diri yang menuntut jadi dramatis.

Saya pun ingin begitu. Saya ingin hidup yang dramatis dengan hujan setiap hari. Pergi naik kapal bajak laut setiap kuliah, kampus diatas langit atau di bawah air. Ketidakbiasaan yang membuat keberadaan jadi nyata dan berbeda. Saya mau latar belakang gelap dan petir tiap kali hati saya sakit, saya mau kilat menyambar tiap kali saya marah. Saya mau alam ikut memperingati, menghargai perubahan emosi saya. Bahkan sekarang ini saya maunya menulis diatas pasir putih pulau sempu, bukannya di blog elektronik.

Karena itu sewaktu bangun dan menerima cerahnya langit, saya langsung rindu hujan. kan seharusnya setiap kejadian dramatis di latar- belakangi dengan hujan. Jatuh cinta, patah hati, jatuh cinta.

Comments

Popular Posts