Fragment

Berdiri berdansa dalam jahitan japon* rumahan
sekali berdiri serentakan
rencana tinggal teman lain
berbicara dan berskandal dan tertawa
malam larut tabur bunga
dalam dentuman alunan dentang

malam semakin larut

Jadi ceritanya hari ini saya mengingat satu-dua cerita penggalan mengenai almarhumah nenek saya. Beliau yang telah pergi hampir 4 tahun yang lalu memang sosok yang suka bercerita tentang masa mudanya. Walaupun banyak lupa tentang hal yang terjadi beberapa jam yang lalu, lupa sudah makan atau belum, lupa saya ini cucu nya yang bernama siapa, oma tidak pernah melupakan cerita masa mudanya. Oma selalu berkata bercerita tentang waktu lampau sambil tertawa sampai terkikik. Matanya yang mulai berwarna mengabu terlihat berbinar berlapis tipis kaca air. Mungkin itu yang membuat hal pertama yang saya lakukan saat sampai dirumah adalah masuk ke kamar oma, berlutut atau duduk di tepi springbed nya dan bertanya 'Apa kabar Oma hari ini?' 'Oma ceritain lagi soal..'
lalu beliau mulai bertutur tentang cerita masa mudanya.

dan rasanya waktu berhenti

Oma saya lahir di tahun 30an yang telah kita ketahui adalah lini waktu perjuangan kemerdekaan. Masih dalam situasi pendudukan kolonial. Beliau lahir dan menghabiskan masa muda di pulau Sangir, Sulawesi Utara. Pada malam ini khususnya saya teringat salah satu episode cerita oma mengenai acara berdansanya saat muda dulu. Ia bercerita tentang bagaimana dulu ia dan beberapa temannya seringkali mendapat undangan untuk berdansa disalah satu rumah keluarga Belanda.
Bahkan sejak tahun 50an pun eksklusifitas dalam bergaul pun sudah muncul. Apalagi di grup wanita-wanita menyeramkan (menurut saya) wanita-wanita yang cantik-cantik disuatu daerah akan diundang acara berdansa ini, dan konon cerita oma, yang tidak mendapat undangan artinya tergolong kurang cantik. Dan yang diundang akan merasa lebih cantik dari yang lain dan menertawakan yang lain (eksklusifitas yang agak narsis) 
'Oma ih jahat, kok gitu' satu-dua respon saya sambil tertawa kecil.
Lebih lanjut di arena dansa yang mulai tervisualisasi samar-samar dalam benak saya, oma juga bercerita bahwa beberapa laki-laki bujang akan ikut hadir dalam pesta itu. Saya membayangkan suasana tahun 50an, rambut bergelombang pendek, gaun potongan A-line tanpa lengan, asap cerutu mengebul, kalung mutiara, sapu tangan menutup mulut gadis yang tertawa. Begitu kira-kira gambaran saya. Lalu bujang-bujang ini, ada yang oke ada pula yang kurang oke, penilaian yang entah berbasis apa.. Kelompok wanita cantik ini akan mempermainkan laki-laki yang kurang tampan sehingga sampai pada akhirnya mereka tidak berdansa dengan salah satu dari mereka. (eksklusifitas yang agak kejam)
Oma saya biasa bertutur dalam dialek khas sulawesi
'deng oma pe tamang, torang pigi sama-sama..'
sedikit banyak saya mengerti percakapan dengan dialek seperti ini walau kepayahan kalau harus meniru berbicara seperti itu.
Banyak episode lain yang pernah diceritakan beliau pada malam hari saat saya pulang, kadang sambil melewati makan siang bersama dikamar dengan pintu terbuka. Kadang pukul 2 menuju setengah 3 saat insomnia menyerang oma dan saya. Semua kisah terdengar menarik, diceritakan dalam satu tarikan nafas saking bersemangat, diceritakan berulang-ulang. Beberapa saya mulai lupa namun beberapa sangat membekas.
Rasanya ingin saya ceritakan kepada siapapun lawan obrolan saya, rasanya mau saya tulis ulang dengan tulisan tangan, kadang ingin saya tambahkan melodi agar jadi sebuah lagu penuh romantika masa lampau. Atau dilukis dengan cat air? memori yang rasanya mau saya dekap erat.

Ah.mungkin saya hanya sedang rindu pada oma malam ini..
:)

*gaun, baju terusan

Comments

Popular Posts